BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
membawa manusia larut dan terbuai dalam dinamika modernitas, yang dibarengi
dengan akselerasi-akselerasi sains dan teknologi canggih. Keadaan ini membuat
manusia lengah sehingga demensi spiritualnya lambat laun terkikis. Kita sering
menyaksikan tercerabutnya akar spriritualitas di panggung kehidupan. Salah satu
penyebabnya adalah pola hidup global yang dilayani oleh perangkat teknologi
yang serba canggih.
Dalam konteks Islam, untuk mengatasi
keterasingan dan kekosongan spiritualitas dan sekaligus membebaskan dari derita
alienasi (dalam bahasa sosiolog, berarti keterasingan) adalah dengan menjadikan
Tuhan sebagai tujuan akhir (ultimate goal) dan kembali, karena Tuhan adalah Dzat
Yang Maha Memiliki dan Mahaabsolut. Keyakinan dan perasaan seperti inilah yang
akan memberikan kekuatan, kendali dan kedamaian jiwa seseorang sehingga ia
merasa senantiasa berada dalam “orbit” Tuhan.
Tasawuf sering dianggap sebagai salah satu
metode alternative yang banyak dipakai manusia untuk mendekati Tuhannya.
Tasawuf juga merupakan fenomena yang menarik perhatian sehingga tema-tema
actual yang paling menonjol sekarang ini adalah tema-tema sufisme.
Pada abad pertama orang belum mengenal
istilah tasawuf, yang muncul hanya benih-benihnya saja, seperti munculnya
istilah “nussak”, “zuhhad”, dan “ubbad”. Nussak adalah orang-orang yang
menyediakan dirinya untuk mengerjakan ibadah kepada Allah; Zuhhad adalah
orang-orang yang menghindari dunia beserta kemegahan, harta benda, dan pangkat
duniawi; dan Ubbad adalah orang-orang yang berusaha mengabdikan dirinya hanya
semata-mata kepada Allah. Pada abad ini muncul nama Hassan al Bashri yang
terkenal dengan ajarannya khauf (takut kepada Allah, dan raja’(berharap atas kasih
Allah).
Kemudian pada abad ketiga muncullah seorang
sufi termasyhur, yaitu Dzun Nun al Mishri. Ia banyak menambahkan cara manusia
lebih mendekatkan diri kepada Allah. Tujuan hidupnya adalah mencari kecintaan
Tuhan, membenci yang sedikit, menuruti garis perintah yang diturunkan, dan
takut berpaling dari jalan Allah. Oleh karena itu pemakalah disini akan
membahas tentang biografi serta ajaran tasawuf dan ma’rifat menurut Dzn Al-Nun Al-Mishri.
B. Rumusan Masalah
1.
Siapakah Dzu al-Nun al-Mishri itu ?
2.
Apasajakah
hasil Pemikiran atau ajaran yang di sumbangkan oleh Dzn Al-Mishri ?
3.
Bagaimana pemikiran
ma’rifat menurut Dzu al-Nun Al-Mishri ?
4.
Bagaimana
Pemikiran Maqamat dan Ahwal menurut Dzun Nunal Mishri ?
C. Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui
Biografi Dzn Al-Nun Al-Mishri.
2.
Mengetahui
Hasil Pemikiran atau ajaran yang di sumbangkan oleh Dzn Al-Mishri.
3.
Mengetahui
Pemikiran ma’rifat menurut Dzu al-Nun Al-Mishri ?
4.
Mrngetahui
Pemikiran Maqamat dan Ahwal menurut Dzun Nunal Mishri?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Dzn Al-Nun Al-Mishri (180-246 H)
Nama lengkapnya ialah Abu al- Faidl Tsauban
bin Ibrahim Dzn al-Nun al-Misri al-Akhmini Qibthy.Ia dilahirkan di Akhmin
daerah Mesir. ada juga pendapat yang mengatakan bahwa dia berasal Naubah suatu
negeri yang terletak anatara Sudan dan Mesir. Tahun kelahirannya tidak banyak
diketahui, yang diketahui hanya tahun wafatnya, yaitu 860 M.
Menurut Hamka, beliaulah puncaknya kaum sufi dalam abad ketiga hijriyah.
Beliaulah yang banyak sekali menambahkan jalan buat menuju Tuhan. Yaitu
mencintai Tuhan, membenci yang sedikit, menurut garis perintah yang diturunkan
dan takut terpaling dari jalan yang benar.
Dzu al-Misri, memandang bahwa ulama- ulama
Hadits dan Fiqh memberikan ilmunya kepada masyarakat sebagai suatu hal yang
menarik keduniaan di samping sebagai obor bagi agama. Pandangan hidupnya yang
cukup sensitive barangkali menyebabkan para fuqaha mulai membenci dan
menantangnya dan sekaligus menuduhnya sebagai seorang zindiq.
Tidak hanya sampai di situ, bahkan para fuqaha mengadukannya kepada ulama Mesir
yang pada waktu itu dipimpin oleh Muhammad bin Abdul Hakam penganut mazhab
Maliki. Dzu al-Nun Misri dipanggil dan ditanyai oleh pimpinan ulama itu. Dari
berbagai jawaban dan uraian yang diberikannya, maka pimpinan ulama itu menuduhnya
sebagai seorang zindiq. Setelah itu Dzu al-Nun merasa bahwa dirinya tidak lagi
disenangi masyarakat daerahnya. Untuk itu ia memutuskan untuk sementara waktu
berkelana ketempat lain. Setelah merantau beberapa lama ia kembali pulang ke
Mesir dan penguasa waktu itu ialah Ibnu Abi Laits, berpaham mazhab Hanafi
sebagai pengganti Muhammad bin Abdul Hakam yang meninggal. Di Mesir, ia dituduh
orang banyak sebagai orang yang zindiq dan demikian pula sikap penguasa waktu
itu. Bahkan menyuruhnya pergi ke Baghdad menemui khalifah untuk menerima
hukuman penjara.
Akan tetapi di Baghdad banyak sufi yang
berasal dari Mesir dan di antara mereka ada yang bekerja sebagai peawai
dilingkungan istana. Para sufi itu berusaha agar khalifah al-Mutawakkil
bersedia menerima kedatangan Dzu al-Nun al- Misri. Ternyata kemudian khalifa
al-Mutawakkil bersedia menerima kedatangan Dzu al-Nun al-Mishri serta menerima
ajaran- ajaran yang dikembangkannya. Pada waktu al-Mishri akan kembali ke
Mesir, khalifah melepasnya dengan penghormatan. Sesampainya di Mesir, ia
kembali menyebar luaskan ajaran tasawufnya dan sejak itu pulalah tasawuf
berkembang dengan pesat di kawasan Mesir. Namun tidak lama kemudian ia wafat di
Jizah dan makamkan di Qurafah shughra pada tahun 245 Hijriyah.
Jasa Dzu al-Nun al-Misri yang paling besar
dan menonjol dalam dunia tasawuf adalah sebagai peletak dasar tentang jenjang
perjalanan sufi menuju Allah, yang disebut al-maqomat. Dia banyak memberikaan
petunjuk arah jalan menuju kedekatan dengan Allah sesuai dengan pandangan sufi.
Karenanya, ia juga sering disebut pemuncaknya kaum sufi pada abad ketiga
hijriyah. Adapun pendapat- pendapatnya disekitar metode mendekatkan diri kepada
Allah atau al-maqomat dan al-ahwal. Di samping itu, al-Mishri adalah salah
seorang pelopor doktrin al-ma’rifah. Dalam hal ini dia membeda antara
pengetahuan dan keyakinan. Menurutnya pengetahuan adalah hasil pengamatan
inderawi, yakni apa yang dapat diterima melalui panca indra. Sedangkan
keyakinan adalah hasil dari apa yang dipikirkan dan atau diperoleh melalui
intuisi. Dalam hubungan ini, ia menjelaskan, bahwa pengetahuan itu ada tiga
kualitas, yaitu:
a)
pengetahuan
orang yang beriman tentang Allah pada umumnya, yaitu pengetahuan yang diperoleh
melalui pengakuan atau syahadat
b)
pengetahuan
tentang keesaan Tuhan melalui bukti- bukti dan pendemontrasian ilmiah dan hal
ini merupakan milik orang- orang yang bijak, pintar dan terpelajar, para
mutakallim dan filosof
c)
pengetahuan
tentang sifat- sifat Yang Maha Esa, dan ini merupakan milik orang-orang yang
saleh (wali Allah) yang dapat mengenal wajah Allah dengan mata hatinya,
sehingga Allah menampakan diri kepada mereka dengan cara yang ia tidak berikan
kepada siapapun di dunia kecuali kepada aulia.
Pengetahuan ini yang disebut ma’rifat yang
diurai rinci oleh Dzu al-Nun al-Mishri dalam dunia tasawuf, sesudah dicetuskan
pertama kali oleh Ma’ruf al- Kharki.
B. Ajaran Dzn Al-Nun al-Mishri
1. Konsep Al-Ma’rifah Menurut Dzn Al-Nun Al-Mishri
Ma’rifat, menurut al-Misri adalah
pengetahuan hakiki tentang Tuhan. Hanya terdapat pada para sufi yang sanggup
melihat Tuhan dengan hati nurani mereka. Mahrifat dimasukan Tuhan ke dalam hati
seorang sufi sehingga hatinya penuh dengan cahaya. Ketika ia ditanya bagaimana
ia mencapai ma’rifat tentang Tuhan, ia menjawab :
“Aku mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan
sekiranya tidak karena Tuhan aku tidak akan tahu Tuhan”
ungkapan tersebut menunjukan bahwa ma’rifat
tidak diperoleh begitu saja, tetapi melalui pemberian Tuhan. Ma’rifat bukanlah
hasil pemikiran manusia, tetapi tergantung kepada kehendak dan rahmat Tuhan.
Ma’rifat adalah pemberian Tuhan kepada sufi yang sanggup menerimanya. Pemberian
tersebut dicapai setelah seorang sufi lebih dahulu menunjukan kerajinan,
kepatuhan dan ketaatan mengabdikan diri sebagai hamba Allah dalam beramal secara
lahiriyah sebagai pengabdian yang dikerjakan tubuh untuk beribadat. ma’rifat
juga dimaksudkan dengan komunikasi cahaya dari Tuhan ke dalam hati nurani
seseorang. Orang- orang yang sudah mencapai ma’rifat tidak lagi berada dalam
diri mereka, tetapi mereka berada dalam dzat Tuhan. Mereka dapat melihat tanpa
pengetahuan, tanpa mata, tanpa penerangan, tanpa tampa opservasi, tanpa
penghalang dan hijab. Semua gerakan – gerakan merekan adalah di sebabkan oleh
ALLAH. Kata –kata mereka adalah kata-kata Allah yang di ucapkan melalui lidah
mereka . Dan penglihatan mereka adalah penglihan Tuhan yang telah masuk ke
dalam mata mereka . dengan demikian , taraf tertinggiyang dapat dicapai oleh
sufi sesudah masanya Dzu al-Nun al-Mishri ini adalah memperoleh pengetahuan super
intelektual yang terkenal dengan istilah al-ma’rifat.
Dzun Nun al Mishri berhasil memperkenalkan
corak baru tentang al Ma’rifat dalam bidang sufisme Islam. Keberhasilan itu
ditandai dengan :
1.
Dzun Nun
al Mishri membedakan antara al ma’rifat sufiah yaitu melaksanakan kegiatan sufi
menggunakan pendekatan qalb atau hati dan ma’rifat aqliah yaitu menggunakan
pendekatan akal.
2.
Al
Ma’rifat menurut Dzun Nun al Mishri sebenarnya adalah musyahadah al qalbiyah
sebab ma’rifat merupakan fitrah dalam hati manusia sejak zaman azali.
3.
Teori-teori
al ma’rifat Dzun Nun al Mishri menyerupai gnosisme ala Neo-Platonik. Teori ini
dianggap sebagai jembatan teori-teori wahdat ash shuhud dan ittihad. Oleh
karena itu dialah orang yang pertama mamasukkan unsur falsafah ke dalam tasawuf.
Teori ini pada mulanya sulit diterima oleh
kalangan teolog sehingga Dzun Nun al Mishri dianggap sebagai seorang zindiq.
Oleh karena itu ia ditangkap oleh Khalifah Al Mutawakkil (Khalifah Abbasyiah
yang memerintah tahun 232 H/847 M – 247 H/861 M), namun akhirnya dibebaskan.
Fenomena ini wajar karena kita temui pandangan al ma’rifatnya yang pada mulanya
cenderung antithesis terhadap aqliyah dan kalam.
Berikut ini adalah pandangannya tentang al
ma’rifat :
1.
Sesungguhnya
al ma’rifat yang hakiki adalah bukan ilmu tentang keesaan Tuhan sebagaimana
yang dipercayai oleh orang-orang mukmin. Ia juga bukan ilmu-ilmu burhan dan
nazhar milik para hakim, mutakallimin dan ahli balaghah. Akan tetapi ia adalah
ma’rifat terhadap Tuhan yang khusus dimiliki para wali Allah, sebab mereka
adalah orang yang menyaksikan Allah dengan mata hatinya, maka terbukalah
hatinya apa yang tidak dibukakan untuk hamaba-hamba yang lain.
2.
Al ma’rifat yang ia pahami adalah bahwa Allah
menyinari hatimu dengan cahaya al ma’rifat yang murni, seperti matahari tak
dapat dilihat, kecuali dengan cahayanya. Senantiasa salah seorang hamba
mendekat kepada Allah sehingga terasa hilang dirinya, lebur (fana) dalam
kekuasaan-Nya, mereka merasa hamba, bicara dengan ilmu yang telah diletakkan
oleh Allah pada lidah mereka, melihat dengan penglihatan Allah, dan berbuat
dengan perbuatan Allah.
Kedua ungkapan di atas menjelaskan bahwa
ma’rifat kepada Allah tidak dapat ditempuh melalui pendekatan akal dan
pembuktian-pembuktian, tetapi dengan jalan ma’rifah bathin, yakni Tuhan
menyinari hati manusia dan menjaganya dari ketercematan, sehingga semua yang
ada di dunia ini tidak mempunyai arti lagi. Melalui pendekatan ini manusia
perlahan-lahan terangkat ke atas sifat-sifatnya yang rendah dan selanjutnya
menyandang sifat-sifat yang luhur seperti yang dilimiki Tuhan.
Pandangan-pandangan seperti inilah yang nantinya diteruskan dan dikembangkan
oleh Abu Yazid al Bustami, al Junaid sampai al Ghazali.
Menurut Abu Bakar al kalabadzi (wafat 380
H/990 M) dalam bukunya Al Ta’aruf li Mazahid Al Tashawwuf (Pengenalan terhadap
Madzhab-madzhab Tasawwuf), Dzun Nun al Mishri telah sampai kepada tingkatan
ma’rifat, yaitu tingkatan maqam (stasiun) tertinggi dalam tasawuf, setelah
melewati maqam taubat, zuhud, fakir, sabar, tawakkal, rida, dan cinta
(mahabbah). Ma’rifat adalah mengetahui Tuhan dengan sanubari. Dalam buku itu
disebutkan bahwa suatu hari Dzun Nun al Mishri ditanya tentang cara memperoleh
ma’rifat, ia menjawab, “’arafu rabbi bi rabbi walau la rabbi lamma ‘arafu
rabbi” ,Aku mengenal Tuhan karena Tuhan, dan sekiranya tidak karena Tuhan , aku
tidak akan mengetahui Tuhan). Kata-kata Dzun Nun al Mishri ini sangat popular
dalam ilmu tasawuf. Menurut Abu Al Qasim Abd Karim Al Qusyairi, Dzun Nun al
Mishri mengakui bahwa ma’rifat yang diperolehnya bukan semata-mata hasil
usahanya sebagai sufi, melainkan lebih merupakan anugrah yang dilimpahkan Tuhan
kepada dirinya.
Dzun Nun al Mishri membagi pengetahuan
tentang Tuhan menjadi tiga bagian, yaitu :
1.
Pengetahuan
untuk seluruh muslim
2.
Pengetahuan
khusus untuk para filosof dan ulama
3.
Pengetahuan
khusus untuk para wali Allah
. Menurut Harun
Nasution, jenis pengetahuan yang pertama dan kedua belum dimasukkan dalam
kategori pengetahuan hakiki tentang Tuhan. Keduanya belum disebut dengan al
ma’rifat, tetapi disebut dengan ilmu. Adapun jenis pengetahuan yang ketiga baru
disebut dengan al ma’rifat.
Dari ketiga macam pengetahuan Tuhan di atas, jelaslah
bahwa pengetahuan tingkat auliya (para wali) adalah yang paling tinggi
tingkatannya karena mereka mencapai tingkatan musyahadah. Para ulama dan
filosof tidak mampu mencapai maqam ini, sebab mereka masih menggunakan akal
untuk mengetahui Tuhan, sedangkan akal itu sendiri mempunyai keterbatasan dan
kelemahan.
Dzun Nun al Mishri mempunyai sestematika
tersendiri dalam perjalanan rohaninya menuju tingkat ma’rifat. Dari teks-teks
ajarannya, Abu Hamid Mahmud mencoba menggambarkan tariqahnya sebagai berikut :
1.
Orang yang
bodoh adalah orang yang tidak mengenal jalan menuju Allah dan tidak ada usaha
untuk mengenalnya.
2.
Jalan itu
ada dua macam, yaitu thariq al inabah ialah jalan yang dimulai dengan meminta
cara ikhlas dan benar, dan thariq al ihtiba, jalan ini tidak mensyaratkan
apa-apa pada seseorang, jalan ini urusan Allah semata.
3.
Di sisi
lain Dzun Nun al Mishri mengatakan manusia itu terdiri dari dua macam, yaitu
dari dan wasil. Dari adalah orang yang menuju jalan iman, sedangkan wasil
adalah yang berjalan di atas kekuatan al ma’rifat.
Ungkapan-ungkapan di atas menunjukkan bahwa
pada garis besarnya terdapat dua jalan yang ditempuh Dzun Nun al Mishri dalam
mendekati Tuhan, yaitu thariqah yang biasa ditempuh oleh para ahli sufi melalui
maqamat yang dilakukan secara sistematis dan ketat mulai tobat. Adapun thariqah
yang kedua yaitu ijtiba bersifat personal.
Untuk jalan thariqah, Dzun Nun al Mishri
menceritakan secara lebih rinci tahapan-tahapan situasi batin yang hendak
menuju tingkat arif (ahli ma’rifat), yaitu : iman, khauf, tha’ah, raja, al
mahabbah, syauq, uns, thuma’ninah, dan na’im. Di samping menggunakan thariqah
seperti ini, ia juga menempuh perjalanan sufinya melalui maqamat tertentu yang
intinya dimulai dari taubat, wara, zuhud, tawakkal, rida, al ma’rifat, sampai
mahabbah.
Menurut Dzun Nun al Mishri, sebelum ia
sampai pada maqam al ma’rifat, dia melihat Tuhan melalui tanda-tanda
kebesaran-Nya yang terdapat di alam semesta. Suatu ungkapan puisinya adalah
sebagai berikut :
“…. Ya Rabbi, aku mengenal-Mu melalui
bukti-bukti karya-Mu dan tindakan-Mu dengan ridaku dengan semangat Engkau dalam
kecintaan-Mu, dengan kesentosaan dan niat teguh.”
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa
Dzun Nun al Mishri adalah seorang sufi besar, bapak paham al ma’rifat dalam
terminologi sufisme karena keberhasilannya dalam menampilkan corak baru
kehidupan sufistik, yang lebih menekankan pendekatan al ma’rifat qalbiyah dari
pada al ma’rifat aqliyah. Inti ajaran al ma’rifat adalah mengetahui dan melihat
Tuhan dari dekat sehingga hati sanubari sempat meliha-Nya tanpa penghalang.
Pengetahuan inti adalah anugrah Allah yang diberikan kepada orang-orang
tertentu.
2. Maqamat dan Ahwal Menurut Dzn Al-Nun Al-Mishri
Maqamat dan ahwal adalah dua hal yang
senantiasa dialami oleh orang yang menjalani tasawuf sebelum mencapai tujuan
yang dikehendaki, Yang pertama berupa tahapan perjalanan, dan yang kedua berupa
keadaan.
1. Maqamat
Maqamat dalam ilmu tasawuf mengandung arti
kedudukan hamba dalam pandangan Allah, menurut apa yang diusahakan berupa
latihan. Jika seseorang belum memenuhi kewajiban-kewajiban yang terdapat suatu
maqam, ia tidak boleh naik ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa maqam dijalani oleh seorang tasawuf melalui usaha yang
sungguh-sungguh dalam melakukan sebuah kewajiban yang harus ditempuh untuk
jangka waktu tertentu.
Menurut Dzun Nun al Mishri, maqam ini dapat diketahui berdasarkan tanda-tanda,
simbol-simbol, dan amalannya. Oleh karena itu keberhasilannya itu merupakan
penilaian yang berasal dari Allah, mencerminkan kedudukan seorang tasawuf di
hadapan Allah.
Selanjutnya dalam Da’irat Al Ma’rifat Al
Islamiyah diterangkan tentang simbol-simbol az zuhud menurut Dzun Nun al
Mishri, yaitu sedikit cita-cita, mencintai kefakiran, memiliki rasa cukup yang
disertai kesabaran. Sedangkan masalah tobat ia membedakan atas tiga tingkatan,
yaitu :
1.Orang yang bertobat dari dosa dan keburukannya
2.Orang yang bertobat dari kalalaian dan kealfaan mengingat Tuhan
3.Orang yang bertobat karena memandang kebaikan dan ketaatannya.
Keterangan Dzun Nun al Mishri tentang maqam
as shobr dikemukakan dalam bentuk kepingan dialog dari sebuat riwayat. Suatu
ketika ia menjenguk seorang yang sakit. Tatkala orang itu berbicara dengan Dzun
Nun, “Tidak termasuk cinta yang benar orang yang tidak sabar dalam menghadapi
Tuhan.” Orang itu kemudian mengatakan “Tidak benar pula cintanya orang yang
merasakan kenikmatan dari suatu cobaan.”.Petikan dialog di atas mengisyaratkan
bahwa Dzun Nun berbicara dengan orang yang juga mengerti dunia sufisme.
Selanjutnya pengertian at tawakkal menurut
Dzun Nun al Mishri adalah berhenti memikirkan diri sendiri dan merasa memiliki
daya kekuatan, intinya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, disertai
perasaan tidak memiliki kekuatan. Dan rida menurut pendapatnya ialah
kegembiraan hati karena berlakunya ketentuan Tuhan.
2. Ahwal
Dalam kitab Isthilahat As Shuffiyah, ahwal
dijelaskan sebagai pemberian yang tercurah pada seseorang dari Tuhannya, baik
dari sebuah amal shaleh yang menyucikan jiwa, menjernihkan hati maupun datang
dari Tuhan sebagai pemberian semata. Atau dengan kata lain ahwal adalah
pemberian yang berasal dari Tuhan kepada hamba-nya yang dikehendaki. Pemberian
itu adakalanya diberikan kepada orang yang berusaha kea rah itu dan adakalanya
tanpa melalui usaha.
Menurut Dzun Nun al Mishri, setiap maqam memupunyai permulaan dan akhir.
Diantara keduanya terdapat aneka ahwal. Setiap maqam mempunyai symbol, dan
setiap hal ditunjuk oleh isyarat. Penjelasan ini menunjukkan bahwa maqam
beerangsung lebih lama dari ahwal. Maqam bersifat tetap, dan ahwal silih
berganti, datang dan pergi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Dzun Nun
al Mishri adalah seorang tasawuf pertama yang memberikan tafsiran-tafsiran
terhadap isyarat-isyarat tasawuf. Ia juga orang pertama yang berbicara tentang
maqamat dan ahwal, orang pertama yang memberikan definisi tentang tauhid dengan
pengertian yang bercorak sufistik.
2.
Al
Ma’rifat menurut pandangan Dzun Nun al Mishri adalah al ma’rifat terhadap
keesaan Allah yang khusus dimiliki para wali Allah, sebab mereka adalah orang
yang menyaksikan Allah dengan mata hatinya, maka terbukalah hatinya apa yang
tidak dibukakan untuk hamba-hamba-Nya yang lain.
3.
Maqamat
adalah kedudukan hamba dalam pandangan Allah, Maqam ini menurut Dzun Nun al
Mishri dapat diketahui berdasarkan tanda-tanda, simbol-simbol, dan amalananya.
4.
Ahwal
adalah sifat dan keadaan sesuatu. Menurut Dzun Nun al Mishri setiap maqam
mempunyai permulaan dan akhir. Dintara keduanya terdapat ahwal. Setiap maqam
memiliki symbol dan setiap ahwal ditunjuk oleh isyarat
B. Saran
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
membawa manusia larut dan terbuai dalam dinamika modernitas, yang dibarengi
dengan akselerasi-akselerasi sains dan teknologi canggih. Keadaan ini membuat
manusia lengah sehingga demensi spiritualnya lambat laun terkikis. Kita sering
menyaksikan tercerabutnya akar spriritualitas di panggung kehidupan. Salah satu
penyebabnya adalah pola hidup global yang dilayani oleh perangkat teknologi
yang serba canggih. Pemakalah di sini meminta kepada semua pihak untuk tidak
lupa mengingat sang pencipta di jaman yang serba Modern ini, kami menghimbau
kepada semua pembaca dan khususnya pemakalah sendiri agar bisa menyeimbangkan
kehidupan dunia dan akherat
Akhirnya, pemakalah
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu teselesainya makalah
ini, dan pemakalah juga mengharapkan para pembaca budiman dapat memberikan
saran atau masukan yang bisa meningkatkan kualitas makalah ini.
Rosihon Anwar, Akhlak tasawuf , Pustaka setia. Bandung 2009,
Hlm. 1442.
Mustofa,H.A. Drs, akhlak
tasawuf , Pustaka setia, Bandung 1997
Anwar, rosihon,DR,M.Ag, akhlak tasawuf Pustaka setia,Bandung 2009.
Isa, ahmad, Tokoh-Tokoh Sufi, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta 2000.
Jumantoro, totok,kamus ilmu tasawuf , PT. Toha Putra. Semarang 2001.
Sholihin, M,ilmu tasawwuf , Pustaka Setia, Bandung 2008
Suparta, H.M. Drs. Biografi
terkemuka, PT.Toha Putra, semarang 2003
Suparta, H.M. Drs. Biografi terkemuka,
PT.Toha Putra, semarang 2003. Hal. 91
Anwar, rosihon,DR,M.Ag, akhlak
tasawuf Bandung: pustaka setia,2009. Hal. 115
Rosihon Anwar,
Akhlak tasawuf , Bandung: pustaka setia. 2009, Hlm.
1442.
Jumantoro, totok,kamus ilmu tasawuf , PT. Toha
Putra, Semarang. 2001. Hal..197
Amzam..
Sholihin, M,ilmu tasawwuf , Bandung: Pustaka Setia, 2008. Hal. 79